Beijing berada di bawah tekanan untuk menerbitkan kebijakan stimulus yang lebih besar agar bisa meningkatkan daya aktivitas industri menurut laporan yang dilansir Reuters Selasa (10/12) petang. Tetapi inflasi yang tinggi menjelang Tahun Baru Imlek mungkin menjadi hambatan bagi para pengambil kebijakan yang berusaha menopang pertumbuhan yang telah merosot ke tingkat terendah dalam hampir 30 tahun.
Harga konsumen pada bulan November meningkat sebesar 4,5% tahun ini, laju tercepat yang terlihat sejak Januari 2012, sebagian besar didorong oleh lonjakan harga daging babi akibat penyakit yang menyerang ternak babi, data Biro Statistik Nasional (NBS) Cina menunjukkan, Selasa. Angka tersebut melampaui ekspektasi analis di 4,2% dan kenaikan sebesar 3,8% pada bulan Oktober.
Namun, inflasi inti - yang tidak termasuk harga pangan dan energi - tetap rendah.
Sebaliknya, indeks harga produsen (PPI), yang dilihat sebagai indikator utama profitabilitas perusahaan, turun 1,4% YoY, jatuh selama lima bulan berturut-turut. Angka itu dapat dibandingkan dengan perkiraan penurunan sebesar 1,5% dalam jajak pendapat media dan 1,6% jatuh pada bulan Oktober.
Penurunan harga barang-barang manufaktur menunjukkan permintaan masih lemah, meskipun ada tanda perbaikan dalam survei pabrik yang terjadi baru-baru ini.
Harga yang lemah utamanya terlihat di sektor ekstraksi migas dan serat kimia.
PT BEST PROFIT FUTURES
sumber : Investing


No comments:
Post a Comment