Bestprofit (17/09) - Pasar minyak mengalami reli terbesar dalam hampir 30 tahun terakhir pada Senin karena harga minyak mentah meroket lebih dari 14% setelah fasilitas minyak Arab Saudi diserang.
West Texas Intermediate, di level $ 62,9, naik $ 8,05 atau 14,8%. Sejak awal perdagangan Senin di Asia, WTI telah mencapai level $ 63,47, dengan kenaikan intraday 15%.
PT BEST PROFIT FUTURES
sumber : Investing
West Texas Intermediate, di level $ 62,9, naik $ 8,05 atau 14,8%. Sejak awal perdagangan Senin di Asia, WTI telah mencapai level $ 63,47, dengan kenaikan intraday 15%.
Sementara Minyak mentah Brent, di level $ 69,02, naik $ 8,80, atau hampir 14,6%. Dan selanjutnya mencapai $ 64,83, kenaikan 19%.
Ini merupakan laba intraday terbesar sejak Perang Teluk 1991 yang membuat minyak mentah melonjak setelah AS terlibat dalam pertempuran dengan Irak untuk membebaskan Kuwait dari invasi Saddam Hussein.
"Dampak dan tindakan selanjutnya akan tergantung pada durasi pemadaman," kata Vima Jayabalan, Direktur Penelitian di konsultan energi Wood Mackenzie.
Mackenzie menambahkan, “Arab Saudi memiliki cadangan yang cukup untuk menutupi kekurangan pasokan sampai minggu depan, tetapi jika pemadaman meluas, maka mengisi kesenjangan dengan jenis kualitas minyak mentah yang tepat bisa menjadi tantangan. Selain itu, pemangkasan produksi OPEC+ yang sebagian besar terdiri dari minyak mentah sedang dan berat. "
Serangan menggunakan pesawat tanpa awak pada hari Sabtu di kompleks pemrosesan minyak utama Arab Saudi, Abqaiq, dan ladang minyak Khura di negara itu mengurangi separuh produksi minyak mentah Saudi menjadi setengahnya dan pasokan harian dunia sebesar 5%.
Wall Street Journal awalnya mengutip pejabat Saudi yang tidak diidentifikasi mengatakan Saudi berharap, sepertiga dari produksi, atau 2 juta barel per hari, dapat dipulihkan pada hari Senin dan untuk menyeimbangkan kembali pasokan dalam beberapa hari mendatang. Tetapi Reuters mengutip dua sumber di perusahaan minyak negara Saudi Aramco yang mengatakan untuk mengembalikan ke volume produksi normal "mungkin memakan waktu berbulan-bulan."
Menambah dilema bagi para trader, nengenai strategi Arab Saudi dan sekutu utamanya, Amerika Serikat, menanggapi serangan itu. Pemberontak Houthi yang bermarkas di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan itu, tetapi para pejabat AS langsung menuduh Iran sebagai otaknya.
Presiden Donald Trump, yang mengatakan dirinya terbuka melakukan pembicaraan dengan Teheran untuk menyelesaikan konflik dengan Republik Islam, menolak menyebut Iran sebagai tersangka, meskipun dia mengatakan AS "dikunci dan dipaksa" untuk merespon.
Reli hari Senin terjadi setelah Trump mengatakan telah menginstruksikan disiapkannya pasokan minyak mentah darurat dari Cadangan Minyak Strategis AS. Tidak diketahui berapa banyak minyak mentah yang diperlukan untuk menstabilkan pasokan global setelah serangan Saudi. Kompleks pemrosesan Abqaiq yang terkena dampak dan ladang minyak Khurais di kerajaan itu menyumbang hampir 6 juta barel produksi per hari.
Hal lain yang menahan reli minyak mentah adalah penurunan di Wall Street, karena saham maskapai jatuh karena kekhawatiran semakin mahalnya bahan bakar jet, dan juga saham perusahaan minyak
PT BEST PROFIT FUTURES
sumber : Investing


No comments:
Post a Comment